“Apabila kepentingan perkawinan bertumbukan dengan kepentingan dakwah kepada Allah, maka perkawinan akan berhenti dan kepentingan dakwah akan terus berlanjut dalam semua kegiatan dan kehadiranku…”
(Zainab Al-Ghazali)
Inilah yang dikatakan Zainab Al-Ghazali sebelum menikah dengan suaminya Muhammad Salim. Bagi Zainab, pernikahan tidaklah boleh menjadi alasan bagi dirinya untuk melemah atau bahkan absen dari kontribusi terhadap da’wah. Untuk menjaga hal ini Zainab bahkan tidak meminta mahar kepada calon suaminya saat itu. Baginya, cukup janji calon suaminya untuk tidak melarang dirinya menunaikan tugas di jalan Allah SWT sebagai pengganti atas maharnya.
Hubaib bin Maslamah al-Fahri seorang panglima perang memiliki istri yang juga merupakan prajurit dalam pasukannya. Sebelum berperang melawan pasukan Romawi, istrinya bertanya, “Di mana aku menemuimu bila perang telah berkecamuk dan barisan pasukan bercerai-berai?”. Dia menjawab, “Kamu akan menemuiku di tenda panglima Romawi atau di Syurga”. Setelah perang berkecamuk, dan Allah SWT memberikan kemenangan kepada tentara muslim, Hubaib segera menuju kemah panglima Romawi untuk menunggu istrinya. Namun ternyata, istrinya telah berada di tenda panglima pasukan Romawi terlebih dahulu. Pernikahan tidak membuatnya terlena sebagai prajurit.
Ummu Imarah (Nusaibah binti Ka’ab) menjadi tameng bagi Rasul saat perang uhud. Atas keperkasaannya ini hingga suatu saat Rasul mengucapkan, “Aku tidak menoleh ke kiri dan ke kanan pada perang Uhud, melainkan aku selalu melihatnya berperang melindungiku”. Ummu Imarah tetap sigap, meski ia sudah menjadi seorang ibu.
Pernikahan, tidak membuat peran ketiga perempuan tersebut memudar dari ranah da’wah. Pernikahan justru membuat kontribusi mereka berlipat ganda dalam menghidupkannya. Ranah yang kini kerap kali ditinggalkan oleh para perempuan ketika memasuki pernikahan. Mereka cenderung terjebak dalam aktivitas domestik, hingga melupakan tanggung jawabnya dalam berda’wah di masyarakat.
Perempuan masa kini dan pernikahan
Perempuan, sebelum menikah seringkali lebih banyak mengisi aktivitas kesendiriannya dengan hal-hal yang bersifat pemenuhan ke-egoan dibandingkan untuk memenuhi panggilan da’wah. Semua kegiatan dilakoni dengan judul “mumpung belum menikah”. Perbincangan pra menikah pun lebih sering mengenai impian-impian mengenai siapa dan bagaimanakah sosok ‘pangeran berkuda putih’nya akan datang, dibandingkan langkah-langkah besar apa yang akan dilakukan untuk da’wah bersama pangeran tersebut.
Sedangkan setelah menikah, perempuan seringkali terjebak dalam pemikiran sempit mengenai kewajiban seputar urusan rumah tangga. Sehingga persiapan yang dilakukan menjelang pernikahanpun, hanya berkisar bagaimana memasak masakan yang lezat, mencuci baju yang bersih kemudian menyetrikanya hingga licin. Bahkan, ketika memiliki buah hati, perempuan –lagi-lagi– terjebak dalam rutinitas mengurus anak, setelah sebelumnya hanya mengurus suami. Soal da’wah? Urusan belakangan, bila sempat, “Namanya ibu-ibu, maklumlah…”, selalu begitu dalihnya.
Akhirnya, setelah menikah perempuan menjadi jumud, statis dalam berda’wah karena hanya memerankan peranan domestik. Padahal perempuan hadir di dunia ini tidak sekedar untuk menjadi isteri dan ibu. Perempuan lupa, bahwa ia juga hamba Allah yang memiliki kewajiban berda’wah, status yang sama dipikul oleh kaum lelaki. Sebagaimana Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah yang mungkar.” (At Taubah: 71).
Kealfaan Perempuan Masa Kini dalam Menyusun Konsepsi Berda’wah Setelah Menikah
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa pula manusia-manusia super pemberi kontribusi besar bagi kebangkitan Islam lebih banyak lahir di masa lalu? Jawabannya jelas, perempuan masa kini alfa untuk menyusun konsepsi da’wahnya setelah menikah. Hal yang tidak dilakukan oleh perempuan-perempuan hebat pencetak sejarah dan juga penghasil generasi bersejarah di masa lalu.
Pada akhirnya pernikahan bagi kebanyakan perempuan saat ini hanya sekedar penambahan, satu ditambah satu menjadi dua. Sehingga dalam berda’wah, bila sebelumnya kita sendiri, sekarang menjadi berdua. Cukup sampai di situ. Bahkan, lebih sering pernikahan menjadi pengurangan. Perempuan, karena mengurus pasangannya, kekuatannya dalam berda’wah menjadi surut, dan sisa hanya tinggal setengah. Naudzubillah.
Padahal pernikahan sejatinya bukanlah sekedar pertambahan, satu dengan satu sehingga menjadi dua. Apalagi menjadi pengurangan. Pernikahan sejatinya adalah pelipatgandaan seseorang menjadi lima, sepuluh, bahkan seratus. Sehingga bersatu padunya dua insan manusia di dalam mahligai pernikahan, akan menjadikan kontribusinya pada da’wah berlipat ganda. Berlipat ganda bukan sekedar akan memiliki anak 5 atau bahkan sepuluh. Namun lebih pada kekuatan tempurnya dalam da’wah yang menjadi berlipat ganda.
Bila konspesi ini dimiliki oleh perempuan sebelum menikah, maka pernikahan tidak akan menjadi gerbang kejumudan bagi perempuan. Tetapi justru merupakan gerbang perubahan, menuju langkah-langkah besar dalam berda’wah. Dari awalnya sendirian menjadi berjama’ah.
Pernikahan justru tidak membuat Zainab Al-Ghazali lebih permisif dalam aktivitas kejama’ahannya di ranah publik. Meski ia juga memiliki kewajiban di dalam rumah tangga, namun itu tidak menjadi alasan. Ia bahkan jauh lebih produktif setelah menikah.
Senada dengan Istri Hubaib sang panglima perang, kisah di atas membuktikan bahwa di dalam perang tersebut sang istri begitu tangkasnya dalam berperang hingga mampu mendahului Hubaib masuk ke kemah panglima perang. Begitupula dengan Ummu Imarah, yang tetap sigap dan mampu menjadi tameng Rasul, meskipun status ibu-ibu tengah di sandangnya.
What Women Should do…
Sebelum menikah, perempuan harus sudah menyiapkan rencana besar mengenai langkah-langkah pelipatgandaan diri dalam kontribusinya dalam da’wah. Hal-hal apa sajakah yang menjadi kewajiban dan keharusan baginya yang dilakukan untuk da’wah setelah menikah. Begitupula dengan hal-hal yang tidak bisa dinegosiasikan ataupun dikompromikan untuk da’wah meski di dalam pernikahan.
Apabila sudah menikah, dan belum memiliki konsepsi kontribusi da’wah yang jelas, maka tidaklah terlambat untuk menyusunnya saat ini. Bersama suami bahkan lebih baik dan indah.
Kompromi di dalam pernikahan adalah sebuah kemutlakan. Tetapi tidak ada kompromi dalam hal minusnya kita dari da’wah. Maka semoga kita diberikan cukup kekuatan untuk mampu seperti Zainab, Istri Hubaib ataupun Ummu Imarah dalam berda’wah. Semoga pula kita mampu seperti Zainab yang mampu berucap :
“Kini aku mohon agar kau mau memenuhi janjimu itu. Jangan bertanya aku bertemu dengan siapa. Dan aku memohon dari Allah agar pahala jihad ini dibagi antara kita berdua bila Dia berkenan menerima baik amalku ini.
Aku menyadari, memang hakmulah untuk memberikan perintah kepadaku untuk aku patuhi. Akan tetapi Allah SWT dalam diriku lebih besar dari diri kita dan panggilanNya terasa lebih agung”
Semoga pula bila pernikahan menuntut kita meninggalkan da’wah, kita mampu berucap :
“Suamiku, maafkan aku, bila kau menghalangiku dari da’wah, sungguh aku rela meninggalkanmu….”
Fitria Nur Fadhilah
Writer_preneur
(Lihat majalah Khalifah, rubrik sekar masa)
Rabu, 09 Desember 2009
Sabtu, 20 Juni 2009
Undangan Pernikahan



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan mengucap rasa syukur kepada Allah, Rabb pencipta alam semesta, atas karunia dan curahan cinta yang diberikan kepada-Nya untuk kita.
Teman-teman, Insyaa Alloh Pipit akan melangsungkan akad nikah dan resepsi, pada :
Hari : Sabtu, 4 Juli 2009
Tempat : Islamic Centre Iqro, Jatimakmur, Pondok Gede
Waktu : Akad : 13.00 - 15.00
Resepsi : 16.00 - 20.00
Keterangan lebih lengkap, lihat undangan yang pipit attach ya...
PS : Maaf baru ngabarin, soalnya undangannya baru aja jadi, terus terjadi berkali-kali perubahan. Jangan lupa datang ya...
Senin, 02 Maret 2009
Menangislah
Menangislah...
Tapi Sejenak saja,
Jangan berlama-lama...
Menangislah...
Biarkan bulir-bulir air mata yang keluar mengobati lukamu...
Tetapi sebentar saja.
Menangislah...
Biar jadi lapang hatimu...
Tetapi sesengguk saja...
Menangislah...
Untuk semua duka dan penatmu...
Sebab itu menunjukkan kelembutan hatimu...
Perempuan.
Tetapi tidak perlu berlama-lama...
Sebab itu menunjukkan ketegaran yang kau miliki...
Menangislah...
Biar itu jadi obat hatimu...
Menangislah...
Tetapi jangan berlama-lama,
sayang...
Tanjung Bojong-Lampura
Sabtu 21 feb 2009
(sesudah mendengar ceramah ibu baik hati tentang menangis)
Tapi Sejenak saja,
Jangan berlama-lama...
Menangislah...
Biarkan bulir-bulir air mata yang keluar mengobati lukamu...
Tetapi sebentar saja.
Menangislah...
Biar jadi lapang hatimu...
Tetapi sesengguk saja...
Menangislah...
Untuk semua duka dan penatmu...
Sebab itu menunjukkan kelembutan hatimu...
Perempuan.
Tetapi tidak perlu berlama-lama...
Sebab itu menunjukkan ketegaran yang kau miliki...
Menangislah...
Biar itu jadi obat hatimu...
Menangislah...
Tetapi jangan berlama-lama,
sayang...
Tanjung Bojong-Lampura
Sabtu 21 feb 2009
(sesudah mendengar ceramah ibu baik hati tentang menangis)
Senin, 19 Januari 2009
Rekam Jejak Perjalanan ke Lampung III
Perjalanan Ketiga 15-17 Januari 2009
Jum’at, 16 Januari 2009
Sepenggal perjalanan di Lampung
Dengan adanya keputusan MK mengenai suara terbanyak dalam pemilu membuat konstalasi sosial politik Indonesia sedikit berguncang. Seperti yang saya alami hari ini. Kesimpangsiuran informasi dan tidak tertata rapihnya koordinasi partai membuat banyak hal menjadi abu-abu dan tidak pasti. Partai ini sedikit bergemuruh. Wajar memang. Mengingat tentunya banyak kepentingan ikut terpengaruh akibat keadaan ini.
Sebagai seorang peneliti politik, saya melihat keputusan MK ini mendatangkan dua konsekuensi, positif dan negative. Konsekuensi positif ini dapat dilihat dengan diangkatnya kedudukan pemilih sebagai bandul penentu keterpilihan anggota dewan. Siapa yang paling banyak dikenal dan disenangi rakyat, maka dialah yang terpilih. Namun negative-nya adalah kemungkinan terbukanya money politic semakin luas. Sebab orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan suara pemilih sebanyak-banyaknya dengan mekanisme apapun, halal ataupun haram. Dan hal yang termudah –mengingat pemilih Indonesia kebanyakan adalah pemilih tradisional- adalah dengan cara money politic. Selain itu, kemungkinan seorang public figure untuk terpilih jauh lebih besar ketimbang akademisi-akademisi brilian yang ditempatkan partai untuk mengkonsepsikan UU nantinya di legislative, mengingat popularitas public figure jauh lebih besar, sehingga tingkat elektabilitasnya pun akan lebih besar pula. Tapi yang jelas keadaan ini memang membuat konstalasi politik sedikit berguncang.
Oya, tentang perjalanan ke Lampung hari ini, saya mendapatkan sebuah perjalanan berharga. Ya… saya semakin percaya bahwa Alloh tidak tunduk pada teorema dan postulat manapun. Kehendak Alloh bukanlah variabel linear yang dapat diterjemahkan. Juga tidak seperti siklus air, yang bilamana air menguap menuju awan dan kemudian terjadi kondensasi, maka akan terbentuk hujan. Terkadang kehendak Alloh seperti hujan turun yang kemudian diikuti dengan sinar matahari di kesudahannya, sehingga terbentuklah pelangi sebagai ending dari kesemuanya. Namun bahkan kehendak Alloh seperti gerimis yang datang di pagi hari, dan diikuti dengan hujan deras di siang hari. Namun, apapun kehendak-Nya, tapi yang jelas itu indah.
Dan dengan kondisi apapun itu, yang jelas saya tahu tahu, dengan kehendak itulah Alloh menginginkan kita mekar dan tumbuh. Idealnya memang bunga cantik akan mekar dengan indah lewat alam sejuk dan bersahabat, dengan komposisi terik matahari dan deras hujan yang seimbang.
Namun bukan berarti ia tidak mampu mekar dan merekah di tengah panas terik ataupun deras hujan. Sebab dalam keadaan apapun itu, sebuah bunga harus tetap merekah. Tidak bisa tidak. Itu sebuah keharusan, postulat yang pasti.
Sabtu, 17 Januari 2009
Pada awalnya kami merencanakan akan pulang pada tanggal 26 Januari 2009, namun karena sesuatu hal kami harus pulang lebih cepat.
Dalam perjalanan dari satu desa ke desa lain, ataupun dari satu daerah ke daerah lain, selalu saja ada cerita-cerita menarik dari ibu baik hati. Sungguhan. Yang tentunya banyak hikmah yang terkandung di baliknya.
Kisah tentang Pernikahan
Ada banyak konsepsi ideal tentang pernikahan. Idelanya seorang suami adalah yang ber-…., ber-…., ber-….. Begitupula dengan seorang isteri, ada banyak konsepsi keideal-an yang banyak kita ciptakan. Ada berbagai teori keidealan yang diciptakan untuk menghasilkan hubungan yang harmonis. Tapi pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa, tidak ada teori manapun yang benar-benar ‘benar’ mengenai konsep ideal pernikahan. Dalam perjalanan saya ke Lampung ini, saya diperlihatkan dengan berbagai kondisi pasangan suami isteri yang seharusnya tidak ideal, namun ternyata tetap mampu mendatangkan harmoni keharmonisan. Ada pasangan yang saya saksikan sendiri, mulai dari bangun tidur, hingga di malam hari akan tidur selalu berdebat, beradu argumen. Intinya bertengkar terus, tapi ternyata, keadaan itulah yang melahirkan cinta, yang membuat pernikahannya terus terjalin hingga usia mereka yang renta saat ini. Ya… justru dengan itulah lahir cinta. Persamaan diantara mereka, dengan sifat pasangan yang sama itulah yang menguatkan. Inilah konsepsi dimana persamaan menghadirkan kekuatan.
Atau ada sepasang suami isteri yang memiliki sifat yang sangat bersebrangan, satu A dan lainnya Z. Satu seperti angkasa, dan satunya seperti bumi. Tidak ada yang dapat menyatukan. Namun nyatanya, keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang harmonis. Meskipun terkadang terjadi letupan di sana-sini. Namun, memang, perbedaan ada untuk saling melengkapi.
Jadi pada intinya, dengan apapun dan dengan kondisi manapun kita ditakdirkan hidup dengan seseorang, maka apakah berakhir bahagia atau tidak, adalah tergantung bagaimana perjuangan kita untuk menciptakan kebahagiaan itu. Untuk mewujudkan bahwa persamaan yang ada itu akan menguatkan, dan perbedaan yang hadir untuk saling melengkapi.
Terima kasih ibu baik hati, untuk kisah ini. Ada banyak konsepsi tentang pernikahan yang berubah dalam kepala saya. Benar-benar berubah. Saya sadar, bahwa dibalik makanan yang lezat ada koki yang hebat. Dan kelezatannya bukan terletak pada bahan-bahan dasar makanan, tetapi justru keahlian yang koki untuk menciptakan komposisi-komposisi racikan yang sempurna, sehingga terhidanglah makanan yang lezat sedemikian rupa. So, it depend on us!
Nama Mobil
Nabi memiliki kebiasaan untuk menamai tidak hanya binatang, namun juga benda-benda-nya. Saya juga kurang tahu apa alasan pastinya, namun mungkin ditujukan agar tercipta ikatan hati antara si pemilik dan benda. Hehehe… biar romatis juga mungkin ya.
Maka kemudian atas dasar kisah ini, ibu baik hati menyuruh saya memberikan nama pada mobilnya. Hehehe, lucu juga. Apa ya namanya… saya sedikit bingung juga saat itu. Hyundai Accent berwarna hitam. Apa ya namanya ya… yang romantis, biar tercipta ikatan hati…. Aha… saya punya ide : luvly black… seperti nama blog ini, mirip siy. Jdi bisa disingkat, LuBi… Hihihi, lucu juga.
Perhatian : SUARA KEMPES BAN MOBIL ANDA TIDAK MUNGKIN TERDENGAR DARI DALAM
Saya tampaknya harus mengingat benar-benar hal di atas. Dalam perjalanan pulang dari lampung kemarin ada cerita lucu. Setelah kapal mendarat, kami segera meluncur menuju Jakarta. Ya… sebagaimana kondisi jalanan yang ada di Indonesia (gak Cuma di Jakarta ternayata), banyaknya jalanan yang bolong-bolong membuat kami harus berjalan dengan pelan-pelan, ditambah dengan kondisi penerangan yang seadanya, komplit-lah sudah. Namun ada sebuah lubang yang ternyata cukup besar, yang terpaksa harus kami lewati, dan untungnya si Lubi tidak tersangkut, meskipun bunyi dentuman ban mobil yang menghantam lubang terdengar keras.
Tapi setelah itu ada suara seperti ban kempes… pesssss….pesssss….. (hehe, gatau gimana cara mendeskripsikannya dalam kata-kata). Kontan ibu dan saya jadi kaget. “Kempes ya bu? coba kita periksa dulu sebelum masuk tol”, kata saya, “kayaknya di sebelah kanan deh bu”. Si ibu lantas memeriksa sebelah kanan. Ketika ibu memeriksa ban sebelah kanan, dan saya masih di dalam mobil, saya masih mendengar suara yang sama. “Ga ada yang bocor”, kata si ibu. “Tapi pas ibu ngecek keluar, saya masih denger bu”. Saya jadi curiga, jangan-jangan ada binatang di dalam mobil, mungkin ular, atau kodok kejepit. Saya dan ibu akhirnya berdo’a-do’a. Setelah mendengar suara yang sama lagi, akhirnya kami memutuskan untuk membawa ke tukang tambal ban.
Ternyata si abang tukang tambal ban juga memiliki asumsi yang sama. Tidak ada kebocoran. Masih sedikit meragu dan lega juga, akhirnya kami berangkat. Namun, belum sampai pintu tol, suara yang sama kembali terdengar. “Tuh bu… denger kan suaranya?” saya mencoba meyakinkan diri saya dengan bertanya pada ibu baik hati. “Apa mau di cek lagi ni, sebelum kita masuk tol”. Bunyi yang sama kembali terdengar, namun saya jadi sedikit curiga. Karena suara tersebut sepertinya berasal dari sebelah kanan saya. Dan oalahhhh…. Ternyata bunyi itu berasal dari jus sirsak di dalam botol yang sepertinya mengembang, gat au karena apa, mungkin kepanasan ketika di kapal. Hahaha, pantes aja… Jadi karena mengembang dan kepenuhan, si jus berusaha keluar dari botol, jadi deh bunyinya kayak gitu…. Hahaha, saya dan ibu baik hati jadinya cuma bisa ketawa-tawa…
Jadi, bila dari dalam mobil anda terdengar suara ban kempes, maka pastikanlah bahwa tidak ada jus sirsak di dalam mobil anda :)
Jum’at, 16 Januari 2009
Sepenggal perjalanan di Lampung
Dengan adanya keputusan MK mengenai suara terbanyak dalam pemilu membuat konstalasi sosial politik Indonesia sedikit berguncang. Seperti yang saya alami hari ini. Kesimpangsiuran informasi dan tidak tertata rapihnya koordinasi partai membuat banyak hal menjadi abu-abu dan tidak pasti. Partai ini sedikit bergemuruh. Wajar memang. Mengingat tentunya banyak kepentingan ikut terpengaruh akibat keadaan ini.
Sebagai seorang peneliti politik, saya melihat keputusan MK ini mendatangkan dua konsekuensi, positif dan negative. Konsekuensi positif ini dapat dilihat dengan diangkatnya kedudukan pemilih sebagai bandul penentu keterpilihan anggota dewan. Siapa yang paling banyak dikenal dan disenangi rakyat, maka dialah yang terpilih. Namun negative-nya adalah kemungkinan terbukanya money politic semakin luas. Sebab orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan suara pemilih sebanyak-banyaknya dengan mekanisme apapun, halal ataupun haram. Dan hal yang termudah –mengingat pemilih Indonesia kebanyakan adalah pemilih tradisional- adalah dengan cara money politic. Selain itu, kemungkinan seorang public figure untuk terpilih jauh lebih besar ketimbang akademisi-akademisi brilian yang ditempatkan partai untuk mengkonsepsikan UU nantinya di legislative, mengingat popularitas public figure jauh lebih besar, sehingga tingkat elektabilitasnya pun akan lebih besar pula. Tapi yang jelas keadaan ini memang membuat konstalasi politik sedikit berguncang.
Oya, tentang perjalanan ke Lampung hari ini, saya mendapatkan sebuah perjalanan berharga. Ya… saya semakin percaya bahwa Alloh tidak tunduk pada teorema dan postulat manapun. Kehendak Alloh bukanlah variabel linear yang dapat diterjemahkan. Juga tidak seperti siklus air, yang bilamana air menguap menuju awan dan kemudian terjadi kondensasi, maka akan terbentuk hujan. Terkadang kehendak Alloh seperti hujan turun yang kemudian diikuti dengan sinar matahari di kesudahannya, sehingga terbentuklah pelangi sebagai ending dari kesemuanya. Namun bahkan kehendak Alloh seperti gerimis yang datang di pagi hari, dan diikuti dengan hujan deras di siang hari. Namun, apapun kehendak-Nya, tapi yang jelas itu indah.
Dan dengan kondisi apapun itu, yang jelas saya tahu tahu, dengan kehendak itulah Alloh menginginkan kita mekar dan tumbuh. Idealnya memang bunga cantik akan mekar dengan indah lewat alam sejuk dan bersahabat, dengan komposisi terik matahari dan deras hujan yang seimbang.
Namun bukan berarti ia tidak mampu mekar dan merekah di tengah panas terik ataupun deras hujan. Sebab dalam keadaan apapun itu, sebuah bunga harus tetap merekah. Tidak bisa tidak. Itu sebuah keharusan, postulat yang pasti.
Sabtu, 17 Januari 2009
Pada awalnya kami merencanakan akan pulang pada tanggal 26 Januari 2009, namun karena sesuatu hal kami harus pulang lebih cepat.
Dalam perjalanan dari satu desa ke desa lain, ataupun dari satu daerah ke daerah lain, selalu saja ada cerita-cerita menarik dari ibu baik hati. Sungguhan. Yang tentunya banyak hikmah yang terkandung di baliknya.
Kisah tentang Pernikahan
Ada banyak konsepsi ideal tentang pernikahan. Idelanya seorang suami adalah yang ber-…., ber-…., ber-….. Begitupula dengan seorang isteri, ada banyak konsepsi keideal-an yang banyak kita ciptakan. Ada berbagai teori keidealan yang diciptakan untuk menghasilkan hubungan yang harmonis. Tapi pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa, tidak ada teori manapun yang benar-benar ‘benar’ mengenai konsep ideal pernikahan. Dalam perjalanan saya ke Lampung ini, saya diperlihatkan dengan berbagai kondisi pasangan suami isteri yang seharusnya tidak ideal, namun ternyata tetap mampu mendatangkan harmoni keharmonisan. Ada pasangan yang saya saksikan sendiri, mulai dari bangun tidur, hingga di malam hari akan tidur selalu berdebat, beradu argumen. Intinya bertengkar terus, tapi ternyata, keadaan itulah yang melahirkan cinta, yang membuat pernikahannya terus terjalin hingga usia mereka yang renta saat ini. Ya… justru dengan itulah lahir cinta. Persamaan diantara mereka, dengan sifat pasangan yang sama itulah yang menguatkan. Inilah konsepsi dimana persamaan menghadirkan kekuatan.
Atau ada sepasang suami isteri yang memiliki sifat yang sangat bersebrangan, satu A dan lainnya Z. Satu seperti angkasa, dan satunya seperti bumi. Tidak ada yang dapat menyatukan. Namun nyatanya, keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang harmonis. Meskipun terkadang terjadi letupan di sana-sini. Namun, memang, perbedaan ada untuk saling melengkapi.
Jadi pada intinya, dengan apapun dan dengan kondisi manapun kita ditakdirkan hidup dengan seseorang, maka apakah berakhir bahagia atau tidak, adalah tergantung bagaimana perjuangan kita untuk menciptakan kebahagiaan itu. Untuk mewujudkan bahwa persamaan yang ada itu akan menguatkan, dan perbedaan yang hadir untuk saling melengkapi.
Terima kasih ibu baik hati, untuk kisah ini. Ada banyak konsepsi tentang pernikahan yang berubah dalam kepala saya. Benar-benar berubah. Saya sadar, bahwa dibalik makanan yang lezat ada koki yang hebat. Dan kelezatannya bukan terletak pada bahan-bahan dasar makanan, tetapi justru keahlian yang koki untuk menciptakan komposisi-komposisi racikan yang sempurna, sehingga terhidanglah makanan yang lezat sedemikian rupa. So, it depend on us!
Nama Mobil
Nabi memiliki kebiasaan untuk menamai tidak hanya binatang, namun juga benda-benda-nya. Saya juga kurang tahu apa alasan pastinya, namun mungkin ditujukan agar tercipta ikatan hati antara si pemilik dan benda. Hehehe… biar romatis juga mungkin ya.
Maka kemudian atas dasar kisah ini, ibu baik hati menyuruh saya memberikan nama pada mobilnya. Hehehe, lucu juga. Apa ya namanya… saya sedikit bingung juga saat itu. Hyundai Accent berwarna hitam. Apa ya namanya ya… yang romantis, biar tercipta ikatan hati…. Aha… saya punya ide : luvly black… seperti nama blog ini, mirip siy. Jdi bisa disingkat, LuBi… Hihihi, lucu juga.
Perhatian : SUARA KEMPES BAN MOBIL ANDA TIDAK MUNGKIN TERDENGAR DARI DALAM
Saya tampaknya harus mengingat benar-benar hal di atas. Dalam perjalanan pulang dari lampung kemarin ada cerita lucu. Setelah kapal mendarat, kami segera meluncur menuju Jakarta. Ya… sebagaimana kondisi jalanan yang ada di Indonesia (gak Cuma di Jakarta ternayata), banyaknya jalanan yang bolong-bolong membuat kami harus berjalan dengan pelan-pelan, ditambah dengan kondisi penerangan yang seadanya, komplit-lah sudah. Namun ada sebuah lubang yang ternyata cukup besar, yang terpaksa harus kami lewati, dan untungnya si Lubi tidak tersangkut, meskipun bunyi dentuman ban mobil yang menghantam lubang terdengar keras.
Tapi setelah itu ada suara seperti ban kempes… pesssss….pesssss….. (hehe, gatau gimana cara mendeskripsikannya dalam kata-kata). Kontan ibu dan saya jadi kaget. “Kempes ya bu? coba kita periksa dulu sebelum masuk tol”, kata saya, “kayaknya di sebelah kanan deh bu”. Si ibu lantas memeriksa sebelah kanan. Ketika ibu memeriksa ban sebelah kanan, dan saya masih di dalam mobil, saya masih mendengar suara yang sama. “Ga ada yang bocor”, kata si ibu. “Tapi pas ibu ngecek keluar, saya masih denger bu”. Saya jadi curiga, jangan-jangan ada binatang di dalam mobil, mungkin ular, atau kodok kejepit. Saya dan ibu akhirnya berdo’a-do’a. Setelah mendengar suara yang sama lagi, akhirnya kami memutuskan untuk membawa ke tukang tambal ban.
Ternyata si abang tukang tambal ban juga memiliki asumsi yang sama. Tidak ada kebocoran. Masih sedikit meragu dan lega juga, akhirnya kami berangkat. Namun, belum sampai pintu tol, suara yang sama kembali terdengar. “Tuh bu… denger kan suaranya?” saya mencoba meyakinkan diri saya dengan bertanya pada ibu baik hati. “Apa mau di cek lagi ni, sebelum kita masuk tol”. Bunyi yang sama kembali terdengar, namun saya jadi sedikit curiga. Karena suara tersebut sepertinya berasal dari sebelah kanan saya. Dan oalahhhh…. Ternyata bunyi itu berasal dari jus sirsak di dalam botol yang sepertinya mengembang, gat au karena apa, mungkin kepanasan ketika di kapal. Hahaha, pantes aja… Jadi karena mengembang dan kepenuhan, si jus berusaha keluar dari botol, jadi deh bunyinya kayak gitu…. Hahaha, saya dan ibu baik hati jadinya cuma bisa ketawa-tawa…
Jadi, bila dari dalam mobil anda terdengar suara ban kempes, maka pastikanlah bahwa tidak ada jus sirsak di dalam mobil anda :)
Tentang Kesenduan
Sepulang dari perjalanan kedua dari Lampung, seorang saudari saya meng-sms saya
“Fit, malam ini gw merasa sedih banget. Ada banyak hal yang terjadi yang membuat diri gw terluka. Tapi gw ga bisa bilang itu apa. Gw tahu saatnya pasti tiba. Tapi gw takut… Takut nerima semua itu… Ya Allh”
(12 Januari 2009, 00:57)
Saya bingung harus bilang apa. Karena saya tahu, dia hanya butuh untuk mencurahkan perasaannya bahwa ia sedang bersedih. Itu saja. Tanpa perlu saya berkomentar apapun, atau memberikan nasihat. Saya tahu, ia hanya perlu memberi tahu bahwa ia bersedih. Perasaan saya saat ini seolah-olah seperti Ronan Keating dalam “When you say nothing at all”, dalam konteks saya memahami sendunya dalam kediamannya, bukan hal yang lain dalam lagu tersebut.
Akhirnya, setelah membuat janji untuk bertemu dengannya, saya memberikan beberapa patah kata untuk menyemangatinya. Hal yang sama yang ia lakukan ketika saya sedang bersedih.
“Hujan masih turun,
Dan awan masih dengan setia kelabu.
Tampaknya juga tidak akan ada cahaya bulan malam ini, apalagi bebintang.
Tapi kuharap hatimu tidak sesendu hujan dan awan di malam ini.
Pun sendu,
Semoga Alloh memberikan kekuatan hati padamu untuk menjalani malam ini.”
“Kau tahu,
Hujan di tengah nyanyian kesenduannya sebenarnya merupakan puisi keberkahan dan hamparan rahmat-Nya.
Tentang nikmat Tuhan yang tiada henti, dan terus tersambung.
Seperti hujan malam ini,
Yang menyambungkan antara kemegahan semesta langit dan kerendahan bumi.
Sungguh luasnya nikmat Tuhan-Mu tidak terkira…
Maka yakinlah dengan segala nikmat-Nya diantara sendu yang kau punya…”
Ya… terkadang memang sendu datang tanpa permisi. Bahkan datang di saat sendu yang lain belum beranjak. Tapi yakinlah, bahwa sendu yang beruntun menerpa kita membuktikan keterpilihan kita sebagai hamba-Nya. Sebab Alloh tidak menimpakan masalah tanpa sebuah musabab, dan semoga ditujukan untuk mengangkat derajat kita sebagai hamba-Nya.
So, my luvly sista, juz remember :
“Kita ini perempuan milik-Nya…
Spesial…
Diturunkan dari lelangit untuk bumi…
Meski mungkin tidak secantik bidadari,
Namun ketabahan kita dalam menghadapi badai hidup membuat bidadari cemburu…
Maka jadilah perempuan yang penuh ketabahan…
Biar Tuhan tetap jadikanmu perempuan spesial…
Dan bidadari tetap cemburu padamu…”
(All poetry are written at halte komdak, 19.00. Selasa, 13 Januari 2009)
-dedicated to my lovely sista azz, I love U-
“Fit, malam ini gw merasa sedih banget. Ada banyak hal yang terjadi yang membuat diri gw terluka. Tapi gw ga bisa bilang itu apa. Gw tahu saatnya pasti tiba. Tapi gw takut… Takut nerima semua itu… Ya Allh”
(12 Januari 2009, 00:57)
Saya bingung harus bilang apa. Karena saya tahu, dia hanya butuh untuk mencurahkan perasaannya bahwa ia sedang bersedih. Itu saja. Tanpa perlu saya berkomentar apapun, atau memberikan nasihat. Saya tahu, ia hanya perlu memberi tahu bahwa ia bersedih. Perasaan saya saat ini seolah-olah seperti Ronan Keating dalam “When you say nothing at all”, dalam konteks saya memahami sendunya dalam kediamannya, bukan hal yang lain dalam lagu tersebut.
Akhirnya, setelah membuat janji untuk bertemu dengannya, saya memberikan beberapa patah kata untuk menyemangatinya. Hal yang sama yang ia lakukan ketika saya sedang bersedih.
“Hujan masih turun,
Dan awan masih dengan setia kelabu.
Tampaknya juga tidak akan ada cahaya bulan malam ini, apalagi bebintang.
Tapi kuharap hatimu tidak sesendu hujan dan awan di malam ini.
Pun sendu,
Semoga Alloh memberikan kekuatan hati padamu untuk menjalani malam ini.”
“Kau tahu,
Hujan di tengah nyanyian kesenduannya sebenarnya merupakan puisi keberkahan dan hamparan rahmat-Nya.
Tentang nikmat Tuhan yang tiada henti, dan terus tersambung.
Seperti hujan malam ini,
Yang menyambungkan antara kemegahan semesta langit dan kerendahan bumi.
Sungguh luasnya nikmat Tuhan-Mu tidak terkira…
Maka yakinlah dengan segala nikmat-Nya diantara sendu yang kau punya…”
Ya… terkadang memang sendu datang tanpa permisi. Bahkan datang di saat sendu yang lain belum beranjak. Tapi yakinlah, bahwa sendu yang beruntun menerpa kita membuktikan keterpilihan kita sebagai hamba-Nya. Sebab Alloh tidak menimpakan masalah tanpa sebuah musabab, dan semoga ditujukan untuk mengangkat derajat kita sebagai hamba-Nya.
So, my luvly sista, juz remember :
“Kita ini perempuan milik-Nya…
Spesial…
Diturunkan dari lelangit untuk bumi…
Meski mungkin tidak secantik bidadari,
Namun ketabahan kita dalam menghadapi badai hidup membuat bidadari cemburu…
Maka jadilah perempuan yang penuh ketabahan…
Biar Tuhan tetap jadikanmu perempuan spesial…
Dan bidadari tetap cemburu padamu…”
(All poetry are written at halte komdak, 19.00. Selasa, 13 Januari 2009)
-dedicated to my lovely sista azz, I love U-
Rekam Jejak Perjalanan ke Lampung I
Perjalanan Pertama 11-14 Desember 2009
Perjalanan saya pertama kali ke Lampung untuk menemani ibu baik hati berkampanye di Lampung.
Sebagai peneliti politik, perjalanan pertama saya ditujukan untuk mengumpulkan data-data lapangan mengenai keadaan kota dan pemilih Lampung. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa mata pencaharian utama penduduk Lampung adalah sebagai petani. Sedangkan karakter pemilih penduduk Lampung merupakan pemilih tradisional.
Sebagai seorang campaign manager, ya… ini merupakan perjalanan yang menyedihkan. Dalam artian, begitu banyak yang mengernyitkan kepala-nya ketika saya diperkenalkan sebagai campaign manager ibu baik hati. May be because I’m look so young. Soalnya, kadang sebelum diperkenalkan selalu dikira anak ibu, atau orang berkomentar “Sekolahnya libur ya?” atau “Baru lulus SMA?” atau “kuliah dimana?” Hehehe, sebenernya seneng banget si, karena saya selalu dikira lebih muda dari umur saya, malah bisa hemat umur 4 tahun. Hanya yang membuat saya sedih adalah orang jadi tidak percaya dengan kemampuan saya, dengan melihat muka saya. Jadinya, saya tidak dapat ikut dalam setiap rapat-rapat struktur.
Sebagai seorang manusia (hihihi, emang peneliti bukan manusia :). Perjalanan kali ini merupakan sebuah pelajaran hidup, tentang cinta Alloh yang tiada berbatas kepada makhluk-Nya. Hati saya juga sangat berbunga-bunga. Wajah saya seringkali senyum-senyum sendiri sambil bersemu merah dan melihat langit sembari berbisik dalam hati “I Love U Alloh, really…” “I Love U so much”
Hihihi, saya jadi tertawa malu sendiri.
Ya… indah sekali rasanya mengungkapkan pernyataan-pernyataan cinta pada-Nya. Saya merasa sangat jatuh cinta pada-Nya (dan semoga untuk saat-saat yang akan datang, juga akan selalu jatuh cinta) dengan semua takdir-takdir indah-Nya, meski terkadang saya juga kebingungan untuk menginterpretasikan hikmah dibalik semua. Tapi yang pasti, saya tahu itu bukti kecintaan-Nya pada saya.
“Tuhan,
Aku tahu dengan pasti,
Cinta-Mu begitu besar padaku
Hingga lautanpun tak mampu menampungnya,
Jika cinta-Mu Kau tumpahkan.
Juga angkasa tak sanggup melukiskan dalam kanvas-Nya,
Bila ingin kulukiskan.
Tuhan,
Akupun mencintai-Mu.
Begitu dalam.
Begitu luas
I Love You, always…”
(ditulis di : Terbang Tinggi Besar, Lampung. 13 Desember 2008)
Perjalanan saya pertama kali ke Lampung untuk menemani ibu baik hati berkampanye di Lampung.
Sebagai peneliti politik, perjalanan pertama saya ditujukan untuk mengumpulkan data-data lapangan mengenai keadaan kota dan pemilih Lampung. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa mata pencaharian utama penduduk Lampung adalah sebagai petani. Sedangkan karakter pemilih penduduk Lampung merupakan pemilih tradisional.
Sebagai seorang campaign manager, ya… ini merupakan perjalanan yang menyedihkan. Dalam artian, begitu banyak yang mengernyitkan kepala-nya ketika saya diperkenalkan sebagai campaign manager ibu baik hati. May be because I’m look so young. Soalnya, kadang sebelum diperkenalkan selalu dikira anak ibu, atau orang berkomentar “Sekolahnya libur ya?” atau “Baru lulus SMA?” atau “kuliah dimana?” Hehehe, sebenernya seneng banget si, karena saya selalu dikira lebih muda dari umur saya, malah bisa hemat umur 4 tahun. Hanya yang membuat saya sedih adalah orang jadi tidak percaya dengan kemampuan saya, dengan melihat muka saya. Jadinya, saya tidak dapat ikut dalam setiap rapat-rapat struktur.
Sebagai seorang manusia (hihihi, emang peneliti bukan manusia :). Perjalanan kali ini merupakan sebuah pelajaran hidup, tentang cinta Alloh yang tiada berbatas kepada makhluk-Nya. Hati saya juga sangat berbunga-bunga. Wajah saya seringkali senyum-senyum sendiri sambil bersemu merah dan melihat langit sembari berbisik dalam hati “I Love U Alloh, really…” “I Love U so much”
Hihihi, saya jadi tertawa malu sendiri.
Ya… indah sekali rasanya mengungkapkan pernyataan-pernyataan cinta pada-Nya. Saya merasa sangat jatuh cinta pada-Nya (dan semoga untuk saat-saat yang akan datang, juga akan selalu jatuh cinta) dengan semua takdir-takdir indah-Nya, meski terkadang saya juga kebingungan untuk menginterpretasikan hikmah dibalik semua. Tapi yang pasti, saya tahu itu bukti kecintaan-Nya pada saya.
“Tuhan,
Aku tahu dengan pasti,
Cinta-Mu begitu besar padaku
Hingga lautanpun tak mampu menampungnya,
Jika cinta-Mu Kau tumpahkan.
Juga angkasa tak sanggup melukiskan dalam kanvas-Nya,
Bila ingin kulukiskan.
Tuhan,
Akupun mencintai-Mu.
Begitu dalam.
Begitu luas
I Love You, always…”
(ditulis di : Terbang Tinggi Besar, Lampung. 13 Desember 2008)
Senin, 01 Desember 2008
IKLAN POLITIK: SEKEDAR PARODI PENGHIBUR RAKYAT
Abstraksi
Momentum Pilpres 2009 tampaknya menarik hati tokoh-tokoh politik untuk ikut berkontestasi. Hingga kini ada banyak nama yang disebut-sebut bakal memperebutkan posisi RI 1. Mulai dari SBY dan JK yang kini berposisi sebagai incumbent, elit-elit parpol seperti Sutrisno Bachir, Prabowo Subiyanto, Wiranto, Hidayat Nur Wahid, Sri Sultan, Akbar Tanjung , Yusril Ihza Mahendra, Gus Dur. Sampai kepada orang-orang di luar parpol semisal Sutiyoso, Rizal Ramli, Fadjroel Rahman dan Ratna Sarumpaet. Pengamat politik Rizal Malarangeng sebelumnya juga sempat berniat ikut ambil bagian, namun akhirnya menunda untuk mencalonkan diri dan akan kembali di tahun 2014.
Berbagai manuver dilakukan tokoh-tokoh tersebut. Mulai dari mengunjungi tokoh sosial keagamaan untuk meminta dukungan hingga ’menggenjot’ popularitas mereka melalui iklan politik. Namun sepertinya strategi terakhir ini yang paling populer digunakan para capres untuk menaikkan tingkat popularitasnya. Bisa kita lihat dari marak bermunculannya iklan politik.
Sayangnya, iklan politik yang ada hanya sekedar menawarkan parodi politik. Hanya menawarkan kelahiran calon superhero baru, yang benar-benar akan menjadi superhero apabila ia menjadi presiden. Jika tidak, maka masing-masing superhero akan kembali ke rumahnya masing-masing, beristirahat, sambil menyiapkan parodi serupa untuk Pemilu dan Pilres 2014. Alhasil dengan kondisi seperti ini, iklan politik ada yang sebatas parodi politik, sebuah lawakan penghibur hati rakyat yang kondisinya sedang susah. Sekedar memberikan bunga tidur bagi rakyat bahwa superhero akan datang besok pagi, menyelamatkan bangsa ini. Padahal –lagi-, ke-superhero¬-an mereka hanya sebatas ada di layar televisi. Sama seperti superman, batman ataupun X-Man yang ada di televisi, dan tidak mampu menjadi nyata dalam dunia realita.
Iklan Politik : Munculnya Superhero Baru
Beberapa bulan terakhir ini rakyat dikagetkan dengan kehadiran Soetrisno Bachir (SB) dengan slogan ‘Hidup adalah Perbuatan’ yang memenuhi layar televisi, baliho-baliho di jalanan, radio, hingga bioskop. SB yang sebelumnya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, tiba-tiba saja masyarakat menjadi hafal dengan slogan ‘Hidup adalah Perbuatannya’, yang seolah-seolah mencitrakan dirinya telah melakukan kontribusi besar bagi bangsa, seperti kontribusi Chairil Anwar, Soe Hok Gie ataupun Harry Rusli yang ia catut namanya di dalam iklannya.
Publik juga tiba-tiba menjadi simpati dengan Wiranto, karena iklan politiknya yang mengkritisi Pemerintah soal kemiskinan yang terus saja melanda Indonesia. Tidak seperti yang selalu dikabarkan Pemerintah bahwa kemiskinan di Indonesia telah berkurang, Wiranto dalam iklan politiknya mengungkapkan bahwa Indonesia justru menjadi semakin miskin. Tidak ada perubahan yang berarti yang dialami bangsa ini, ini dilihat dari masih saja ada masyarakat yang memakan nasi aking sebagai panganan sehari-hari. Di dalam iklan politiknya, Wiranto digambarkan seolah-olah sebagai sang penyelamat bangsa, dan orang yang mampu membaca hati nurani bangsa. Hal ini diperkuat dengan adanya adegan Wiranto duduk bersama dengan rakyat sambil memakan nasi aking. Betapa meng-hero¬-nya Wiranto di sana. Padahal sebelumnya Wiranto merupakan ‘hantu’ di masa lalu. Oleh beberapa kalangan, ia masih dianggap bertanggung jawab kepada bangsa atas kasus Timor-Timur dan tragedi Mei 1998. Namun hadirnya iklan ini seolah ingin menghapuskan ingatan masyarakat atas bayangan masa lalunya.
Prabowo Subiyanto juga ikut hadir dengan iklan politik yang hampir sama dan senada dengan Wiranto. Iklan politiknya yang mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan nasib petani dengan membeli barang-barang kebutuhan pokok di pasar tradisional, merupakan keinginannya untuk dicitrakan sebagai figur yang sangat konsern terhadap rakyat kecil, dalam hal ini petani dan pedagang pasar tradisional. Ia juga ingin publik lupa terhadap dosa masa lalunya, sebagai Panglima Kostrad ia dinilai bertanggungjawab atas hilangnya mahasiswa-mahasiswa di tahun 1998.
Sementara itu Rizal Mallarangeng, seorang tokoh muda, juga mencoba menyemangati bangsa dengan iklan politiknya yang terkenal dengan ungkapan “when there is a will, there is a way”. Rizal sebagai tokoh muda, mencoba mencitrakan dirinya sebagai pemuda yang penuh dengan ide perubahan terhadap permasalahan bangsa yang sangat kompleks ini dengan ungkapan sederhananya tersebut. Rizal seolah-olah ingin tampil sebagai orang baru –new hero- yang penuh dengan optimisme untuk memperbaiki bangsa yang tengah carut-marut ini.
SBY belakangan juga ikut latah membuat iklan politik, entah sebagai respon atas kritikan-kritikan yang ada atas kinerjanya atau hanya sebatas untuk menaikkan popularitasnya. Di dalam iklan politiknya SBY mengungkapkan keberhasilan-keberhasilan dirinya selama memerintah Indonesia. Menggunakan sumber data yang berbeda dengan Wiranto, SBY mengungkapkan bahwa kemiskinan di Indonesia telah berhasil dikurangi. Pengangguran juga ikut berkurang. SBY juga mengumbar pertumbuhan ekonomi selama kepemimpinannya merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah Orde Baru. Akan tetapi pada intinya tetap sama, iklan politik yang ada hanya ditujukan untuk menggambarkan datangnya superhero baru, yang akan mengubah Indonesia dalam waktu sekejap. Bisakah?
Iklan Politik: Sekedar Untuk Menaikkan Popularitas
Merujuk pada Firmanzah dalam buku Marketing Politik, iklan politik yang ada di Indonesia baru sekedar untuk menimbulkan citra politik, untuk membedakan atau mendiferensiasikan antara satu kandidat atau parpol dengan kandidat atau parpol yang lain. Diferensiasi ini dapat berakibat pada terjadinya perang citra antara satu kandidat atau parpol dengan kandidat atau parpol yang lain.
Tercermin dari keseluruhan iklan politik yang penulis angkat di atas pada hakikatnya hanya bertujuan untuk meningkatkan citra dan popularitas masing-masing tokoh politik untuk Pemilu dan Pilpres 2009. Sehingga yang terjadi hanyalah perang citra. Bagaimana satu iklan yang ada ditujukan untuk menaikkan citra salah satu tokoh, tapi dalam kesempatan yang sama juga menurunkan citra tokoh lain. Misalnya, iklan Wiranto dan Prabowo yang ditujukan untuk menaikkan citra dan tentunya tingkat popularitas mereka. Pada waktu yang bersamaan, materi iklan keduanya merupakan kritik terhadap Pemerintahan saat ini. Sebagai Presiden tentunya SBY-lah sasaran tembak keduanya.
Citra politik ini tidak selalu mencerminkan realitas objektif. Suatu citra politik juga dapat mencerminkan hal yang tidak riil, imajinasi yang terkadang bisa berbeda dengan kenyataan fisik. Citra politik dapat diciptakan, dibangun dan diperkuat. Citra politik dapat melemah, luntur dan hilang dalam sistem kognitif masyarakat.
Keadaan ini dapat pula kita lihat dari iklan politik yang ada. Di mana selama ini iklan politik baru ditujukan untuk menaikkan citra seseorang, dengan cara apapun. Sehingga kemudian, banyak iklan politik yang ada melekatkan citra seseorang tokoh politik, dengan citra yang tidak riil. Para tokoh politik tersebut dalam iklan mereka ditampilkan seolah-olah sebagai tokoh yang berjasa besar bagi publik, seolah-olah telah melakukan kontribusi besar bagi bangsa, seolah-olah tanpa cacat, padahal dalam kenyataannya nol besar. Belum ada satupun kontribusi tokoh tersebut bagi bangsa. Bahkan parahnya, tokoh tersebut telah secara nyata merugikan bangsa di masa lalu.
SB misalnya, dalam realitanya ia hanya merupakan seorang pengusaha batik yang kemudian menjadi ketua umum PAN. Belum pernah ada dalam ingatan kita, kontribusi SB seperti kontribusinya Chairil Anwar yang telah memberikan puisi-puisi penyemangat bagi pahlawan Indonesia. Atau seperti Soe Hok Gie yang senantiasa kritis mengkritik pemerintahan Orde Lama saat itu melalui tulisannya. Dan juga seperti Harry Roesli yang melantunkan nyanyian-nyanyian berisi kritikan terhadap pemerintah. Tidak pernah tercatat sedikitpun bahwa SB adalah penulis puisi, esai ataupun penyanyi, seperti ketiga nama yang ia catut dalam iklan politiknya. Bahwa ia adalah seorang pengusaha batik yang kemudian menjadi ketua umum parpol, memang benar adanya. Namun tidak lebih dari itu. Di sini dapat kita lihat, bahwa moto hidup adalah perjuangan-nya SB hanyalah sebuah imajinasi yang ingin diciptakan dan dibangun SB kepada masyarakat, untuk seolah-olah menjadi sebuah realita.
Sama dengan iklan politik milik Prabowo Subianto, apakah sebelum hadirnya iklan politik Prabowo masyarakat telah mengenal Prabowo sebagai seseorang yang memiliki konsern terhadap pedagang pasar dan petani. Atau pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah dalam kesehariannya Prabowo juga belanja di pasar tradisional. Adalah sebuah kenyataan bahwa di atas pengakuannya sebagai pembela petani dan pedagang, Prabowo hidup dengan gaya mentereng, jauh berbeda dengan kaum yang hendak dibelanya. Akhirnya –lagi- publik dibuat kecewa dengan kenyataan bahwa iklan politik yang dibuat Prabowo adalah sekedar imajinasi yang hendak dibuat riil. Adapun kenyataan riil yang melekat di masyarakat adalah dirinya sebagai Panglima Kostrad di tahun 1998, Prabowo bertanggung jawab atas hilangnya mahasiswa saat itu. Namun akhirnya publik melupakan hal ini, sebab Prabowo telah berhasil ‘meninabobokan’ publik dengan imajinasi barunya.
Imajinasi politik serupa juga hendak ditanamkan Wiranto, yang seolah-olah paham benar dengan penderitaan rakyat dengan adegannya makan nasi aking. Padahal, Wiranto dinilai bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Timor-Timur dan tragedi Mei 1998. Sama seperti yang lainnya, Wiranto mencoba menjadi superhero dalam iklannya agar rakyat lupa. Iklan politik SBY juga sama, hanya ditujukan untuk menaikkan popularitas dan membuat imajinasi yang seolah riil. Meskipun SBY secara ekonomi dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan presiden sebelumnya, tetap saja keadaan ekonomi Indonesia masih buruk. Tidak se-ideal gambaran SBY di dalam iklan politiknya.
Iklan Politik PDIP : Munculnya Perang Wacana
Meskipun keseluruhan iklan politik yang ada mencoba untuk membawa gagasan baru untuk Indonesia, namun pada hakikatnya tujuan kesemuanya adalah sama : yakni untuk memperbagus citra dan meningkatkan tingkat popularitas. Akan tetapi, ada yang berbeda dengan iklan terbaru PDIP yang menjabarkan mengenai program 100 hari Megawati Soekarnoputri jika terpilih sebagai Presiden. Dengan tag line ‘Perjuangkan Sembako Murah’, ada enam langkah kebijakan yang dijanjikan akan ditempuh dalam upaya untuk mewujudkan sembako murah, yaitu:
• Menata kembali ketimpangan struktur penguasaan dan penggunaan tanah ke arah yang lebih adil
• Mempercapat perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi
• Menyediakan pupuk dan bibit murah yang berkualitas
• Meningkatkan operasi pasar untuk menurunkan harga sembako
• Memperkuat koperasi petani, lumbung pangan dan membangun Bank Pertanian
• Mengenadlikan impor sembako yang merugikan petani dan nelayan
Terlepas dari tujuan iklan politik yang memang tidak dapat dilepaskan untuk meningkatkan tingkat popularitas, namun iklan politik ini menawarkan sebuah gagasan baru mengenai perang wacana. Jika iklan yang ada selama ini sekedar perang pencitraan. Maka PDIP mencoba menabuh genderang dimulainya perang wacana, yang menitikberatkan iklan politik terhadap sosialisasi kebijakan-kebijakan yang akan dilaksanakan oleh kandidat terpilih. Meskipun poin-poin yang ada di iklan tersebut masih penuh tanda tanya untuk merealisasikannya, namun patut diapresiasi bahwa iklan politik ini sebagai momentum awal kemunculan iklan politik lain yang juga menawarkan wacana penyelesaian terhadap masalah bangsa.
Sebagai respon atas iklan PDIP, diharapkan muncul pula iklan-iklan politik serupa, yang secara konsern dan detil menawarkan konsep-konsep yang akan membawa perubahan bagi bangsa. Jika dengan ekonomi kerakyatan yang bernuansa sosialis, PDIP menawarkan perbaikan bangsa dengan menawarkan kebijakan yang berpihak pada petani. Lalu, yang ditunggu saat ini adalah apa konsepsi yang akan ditawarkan partai dengan nuansa ekonomi liberal, nasional relijus atau Islam. Melalui iklan politik yang seperti ini, yang menawarkan konsepsi-konsepsi baru bagi perbaikan bangsa, rakyat akan tercerdaskan karena ikut diajak berfikir untuk memikirkan solusi masalah bangsa. Akhirnya nanti pilihan rakyat jatuh pada parpol ataupun kandidat yang mampu menyuguhkan wacana terbaik untuk perbaikan bangsa. Tidak lagi pada kandidat atau parpol yang berhasil mencitrakan dirinya dengan baik. Sehingga tidak ada lagi kandidat yang terpilih karena wajah gantengnya, wibawa yang seolah-olah terpancar dari dalam dirinya, atau bahkan sekedar senyum manisnya.
Berkaca pada iklan politik yang ada di negara maju seperti AS, menurut Bowers (1972) yang meneliti iklan politik calon presiden di surat kabar 23 negara bagian kebanyakan iklan politik yang berfokus pada isu lebih dominan dibandingkan dengan personalitas. Sama halnya dengan iklan politik di televisi, menurut Joslyn, iklan politik yang berfokus pada isu mencapai 60-80 persen daripada citra kandidat. Merujuk pada Indonesia, sebagaimana diulas di atas, iklan politik yang ada hanya sekedar ditujukan untuk meningkatkan citra kandidat. Sosok kandidat sebagai superhero bagi rakyat yang sedang kesusahan jauh lebih banyak ditampilkan ketimbang wacana perubahan yang ditawarkan kandidat tersebut. Sehingga akhirnya, jika kita secara cerdas lebih jauh mencerna iklan politik yang ada, kita hanya akan dibuat tertawa. Sebab iklan politik yang ada benar-benar hanya merupakan dagelan politik, yang sebenarnya tidak lucu. Hanya merupakan rekayasa, sebab tidak ada citra yang ingin ditampilkan kandidat tidak memiliki korelasi dengan isu yang dibawanya. Melihat iklan politik pada akhirnya sama seperti melihat orang memakai jas hujan di tengah hujan terik. Maka mari mendorong dan menekan para kandidat yang ada untuk ikut serta menyumbang konsepsi mereka bagi perubahan dan perbaikan bangsa.
Wallahua’lam bisshowab
Sumber Tulisan :
1. Firmanzah, Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007)
2. http://theindonesianinstitute.com/index.php/20080923269/Iklan-Politik-Simbol-Ketidakpekaan-Elite.html
3. http://www.habibiecenter.or.id/index.cfm?menu=publikasi&fuseaction=publikasi.detail&detailid=191&bhs=ina
Momentum Pilpres 2009 tampaknya menarik hati tokoh-tokoh politik untuk ikut berkontestasi. Hingga kini ada banyak nama yang disebut-sebut bakal memperebutkan posisi RI 1. Mulai dari SBY dan JK yang kini berposisi sebagai incumbent, elit-elit parpol seperti Sutrisno Bachir, Prabowo Subiyanto, Wiranto, Hidayat Nur Wahid, Sri Sultan, Akbar Tanjung , Yusril Ihza Mahendra, Gus Dur. Sampai kepada orang-orang di luar parpol semisal Sutiyoso, Rizal Ramli, Fadjroel Rahman dan Ratna Sarumpaet. Pengamat politik Rizal Malarangeng sebelumnya juga sempat berniat ikut ambil bagian, namun akhirnya menunda untuk mencalonkan diri dan akan kembali di tahun 2014.
Berbagai manuver dilakukan tokoh-tokoh tersebut. Mulai dari mengunjungi tokoh sosial keagamaan untuk meminta dukungan hingga ’menggenjot’ popularitas mereka melalui iklan politik. Namun sepertinya strategi terakhir ini yang paling populer digunakan para capres untuk menaikkan tingkat popularitasnya. Bisa kita lihat dari marak bermunculannya iklan politik.
Sayangnya, iklan politik yang ada hanya sekedar menawarkan parodi politik. Hanya menawarkan kelahiran calon superhero baru, yang benar-benar akan menjadi superhero apabila ia menjadi presiden. Jika tidak, maka masing-masing superhero akan kembali ke rumahnya masing-masing, beristirahat, sambil menyiapkan parodi serupa untuk Pemilu dan Pilres 2014. Alhasil dengan kondisi seperti ini, iklan politik ada yang sebatas parodi politik, sebuah lawakan penghibur hati rakyat yang kondisinya sedang susah. Sekedar memberikan bunga tidur bagi rakyat bahwa superhero akan datang besok pagi, menyelamatkan bangsa ini. Padahal –lagi-, ke-superhero¬-an mereka hanya sebatas ada di layar televisi. Sama seperti superman, batman ataupun X-Man yang ada di televisi, dan tidak mampu menjadi nyata dalam dunia realita.
Iklan Politik : Munculnya Superhero Baru
Beberapa bulan terakhir ini rakyat dikagetkan dengan kehadiran Soetrisno Bachir (SB) dengan slogan ‘Hidup adalah Perbuatan’ yang memenuhi layar televisi, baliho-baliho di jalanan, radio, hingga bioskop. SB yang sebelumnya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, tiba-tiba saja masyarakat menjadi hafal dengan slogan ‘Hidup adalah Perbuatannya’, yang seolah-seolah mencitrakan dirinya telah melakukan kontribusi besar bagi bangsa, seperti kontribusi Chairil Anwar, Soe Hok Gie ataupun Harry Rusli yang ia catut namanya di dalam iklannya.
Publik juga tiba-tiba menjadi simpati dengan Wiranto, karena iklan politiknya yang mengkritisi Pemerintah soal kemiskinan yang terus saja melanda Indonesia. Tidak seperti yang selalu dikabarkan Pemerintah bahwa kemiskinan di Indonesia telah berkurang, Wiranto dalam iklan politiknya mengungkapkan bahwa Indonesia justru menjadi semakin miskin. Tidak ada perubahan yang berarti yang dialami bangsa ini, ini dilihat dari masih saja ada masyarakat yang memakan nasi aking sebagai panganan sehari-hari. Di dalam iklan politiknya, Wiranto digambarkan seolah-olah sebagai sang penyelamat bangsa, dan orang yang mampu membaca hati nurani bangsa. Hal ini diperkuat dengan adanya adegan Wiranto duduk bersama dengan rakyat sambil memakan nasi aking. Betapa meng-hero¬-nya Wiranto di sana. Padahal sebelumnya Wiranto merupakan ‘hantu’ di masa lalu. Oleh beberapa kalangan, ia masih dianggap bertanggung jawab kepada bangsa atas kasus Timor-Timur dan tragedi Mei 1998. Namun hadirnya iklan ini seolah ingin menghapuskan ingatan masyarakat atas bayangan masa lalunya.
Prabowo Subiyanto juga ikut hadir dengan iklan politik yang hampir sama dan senada dengan Wiranto. Iklan politiknya yang mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan nasib petani dengan membeli barang-barang kebutuhan pokok di pasar tradisional, merupakan keinginannya untuk dicitrakan sebagai figur yang sangat konsern terhadap rakyat kecil, dalam hal ini petani dan pedagang pasar tradisional. Ia juga ingin publik lupa terhadap dosa masa lalunya, sebagai Panglima Kostrad ia dinilai bertanggungjawab atas hilangnya mahasiswa-mahasiswa di tahun 1998.
Sementara itu Rizal Mallarangeng, seorang tokoh muda, juga mencoba menyemangati bangsa dengan iklan politiknya yang terkenal dengan ungkapan “when there is a will, there is a way”. Rizal sebagai tokoh muda, mencoba mencitrakan dirinya sebagai pemuda yang penuh dengan ide perubahan terhadap permasalahan bangsa yang sangat kompleks ini dengan ungkapan sederhananya tersebut. Rizal seolah-olah ingin tampil sebagai orang baru –new hero- yang penuh dengan optimisme untuk memperbaiki bangsa yang tengah carut-marut ini.
SBY belakangan juga ikut latah membuat iklan politik, entah sebagai respon atas kritikan-kritikan yang ada atas kinerjanya atau hanya sebatas untuk menaikkan popularitasnya. Di dalam iklan politiknya SBY mengungkapkan keberhasilan-keberhasilan dirinya selama memerintah Indonesia. Menggunakan sumber data yang berbeda dengan Wiranto, SBY mengungkapkan bahwa kemiskinan di Indonesia telah berhasil dikurangi. Pengangguran juga ikut berkurang. SBY juga mengumbar pertumbuhan ekonomi selama kepemimpinannya merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah Orde Baru. Akan tetapi pada intinya tetap sama, iklan politik yang ada hanya ditujukan untuk menggambarkan datangnya superhero baru, yang akan mengubah Indonesia dalam waktu sekejap. Bisakah?
Iklan Politik: Sekedar Untuk Menaikkan Popularitas
Merujuk pada Firmanzah dalam buku Marketing Politik, iklan politik yang ada di Indonesia baru sekedar untuk menimbulkan citra politik, untuk membedakan atau mendiferensiasikan antara satu kandidat atau parpol dengan kandidat atau parpol yang lain. Diferensiasi ini dapat berakibat pada terjadinya perang citra antara satu kandidat atau parpol dengan kandidat atau parpol yang lain.
Tercermin dari keseluruhan iklan politik yang penulis angkat di atas pada hakikatnya hanya bertujuan untuk meningkatkan citra dan popularitas masing-masing tokoh politik untuk Pemilu dan Pilpres 2009. Sehingga yang terjadi hanyalah perang citra. Bagaimana satu iklan yang ada ditujukan untuk menaikkan citra salah satu tokoh, tapi dalam kesempatan yang sama juga menurunkan citra tokoh lain. Misalnya, iklan Wiranto dan Prabowo yang ditujukan untuk menaikkan citra dan tentunya tingkat popularitas mereka. Pada waktu yang bersamaan, materi iklan keduanya merupakan kritik terhadap Pemerintahan saat ini. Sebagai Presiden tentunya SBY-lah sasaran tembak keduanya.
Citra politik ini tidak selalu mencerminkan realitas objektif. Suatu citra politik juga dapat mencerminkan hal yang tidak riil, imajinasi yang terkadang bisa berbeda dengan kenyataan fisik. Citra politik dapat diciptakan, dibangun dan diperkuat. Citra politik dapat melemah, luntur dan hilang dalam sistem kognitif masyarakat.
Keadaan ini dapat pula kita lihat dari iklan politik yang ada. Di mana selama ini iklan politik baru ditujukan untuk menaikkan citra seseorang, dengan cara apapun. Sehingga kemudian, banyak iklan politik yang ada melekatkan citra seseorang tokoh politik, dengan citra yang tidak riil. Para tokoh politik tersebut dalam iklan mereka ditampilkan seolah-olah sebagai tokoh yang berjasa besar bagi publik, seolah-olah telah melakukan kontribusi besar bagi bangsa, seolah-olah tanpa cacat, padahal dalam kenyataannya nol besar. Belum ada satupun kontribusi tokoh tersebut bagi bangsa. Bahkan parahnya, tokoh tersebut telah secara nyata merugikan bangsa di masa lalu.
SB misalnya, dalam realitanya ia hanya merupakan seorang pengusaha batik yang kemudian menjadi ketua umum PAN. Belum pernah ada dalam ingatan kita, kontribusi SB seperti kontribusinya Chairil Anwar yang telah memberikan puisi-puisi penyemangat bagi pahlawan Indonesia. Atau seperti Soe Hok Gie yang senantiasa kritis mengkritik pemerintahan Orde Lama saat itu melalui tulisannya. Dan juga seperti Harry Roesli yang melantunkan nyanyian-nyanyian berisi kritikan terhadap pemerintah. Tidak pernah tercatat sedikitpun bahwa SB adalah penulis puisi, esai ataupun penyanyi, seperti ketiga nama yang ia catut dalam iklan politiknya. Bahwa ia adalah seorang pengusaha batik yang kemudian menjadi ketua umum parpol, memang benar adanya. Namun tidak lebih dari itu. Di sini dapat kita lihat, bahwa moto hidup adalah perjuangan-nya SB hanyalah sebuah imajinasi yang ingin diciptakan dan dibangun SB kepada masyarakat, untuk seolah-olah menjadi sebuah realita.
Sama dengan iklan politik milik Prabowo Subianto, apakah sebelum hadirnya iklan politik Prabowo masyarakat telah mengenal Prabowo sebagai seseorang yang memiliki konsern terhadap pedagang pasar dan petani. Atau pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah dalam kesehariannya Prabowo juga belanja di pasar tradisional. Adalah sebuah kenyataan bahwa di atas pengakuannya sebagai pembela petani dan pedagang, Prabowo hidup dengan gaya mentereng, jauh berbeda dengan kaum yang hendak dibelanya. Akhirnya –lagi- publik dibuat kecewa dengan kenyataan bahwa iklan politik yang dibuat Prabowo adalah sekedar imajinasi yang hendak dibuat riil. Adapun kenyataan riil yang melekat di masyarakat adalah dirinya sebagai Panglima Kostrad di tahun 1998, Prabowo bertanggung jawab atas hilangnya mahasiswa saat itu. Namun akhirnya publik melupakan hal ini, sebab Prabowo telah berhasil ‘meninabobokan’ publik dengan imajinasi barunya.
Imajinasi politik serupa juga hendak ditanamkan Wiranto, yang seolah-olah paham benar dengan penderitaan rakyat dengan adegannya makan nasi aking. Padahal, Wiranto dinilai bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Timor-Timur dan tragedi Mei 1998. Sama seperti yang lainnya, Wiranto mencoba menjadi superhero dalam iklannya agar rakyat lupa. Iklan politik SBY juga sama, hanya ditujukan untuk menaikkan popularitas dan membuat imajinasi yang seolah riil. Meskipun SBY secara ekonomi dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan presiden sebelumnya, tetap saja keadaan ekonomi Indonesia masih buruk. Tidak se-ideal gambaran SBY di dalam iklan politiknya.
Iklan Politik PDIP : Munculnya Perang Wacana
Meskipun keseluruhan iklan politik yang ada mencoba untuk membawa gagasan baru untuk Indonesia, namun pada hakikatnya tujuan kesemuanya adalah sama : yakni untuk memperbagus citra dan meningkatkan tingkat popularitas. Akan tetapi, ada yang berbeda dengan iklan terbaru PDIP yang menjabarkan mengenai program 100 hari Megawati Soekarnoputri jika terpilih sebagai Presiden. Dengan tag line ‘Perjuangkan Sembako Murah’, ada enam langkah kebijakan yang dijanjikan akan ditempuh dalam upaya untuk mewujudkan sembako murah, yaitu:
• Menata kembali ketimpangan struktur penguasaan dan penggunaan tanah ke arah yang lebih adil
• Mempercapat perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi
• Menyediakan pupuk dan bibit murah yang berkualitas
• Meningkatkan operasi pasar untuk menurunkan harga sembako
• Memperkuat koperasi petani, lumbung pangan dan membangun Bank Pertanian
• Mengenadlikan impor sembako yang merugikan petani dan nelayan
Terlepas dari tujuan iklan politik yang memang tidak dapat dilepaskan untuk meningkatkan tingkat popularitas, namun iklan politik ini menawarkan sebuah gagasan baru mengenai perang wacana. Jika iklan yang ada selama ini sekedar perang pencitraan. Maka PDIP mencoba menabuh genderang dimulainya perang wacana, yang menitikberatkan iklan politik terhadap sosialisasi kebijakan-kebijakan yang akan dilaksanakan oleh kandidat terpilih. Meskipun poin-poin yang ada di iklan tersebut masih penuh tanda tanya untuk merealisasikannya, namun patut diapresiasi bahwa iklan politik ini sebagai momentum awal kemunculan iklan politik lain yang juga menawarkan wacana penyelesaian terhadap masalah bangsa.
Sebagai respon atas iklan PDIP, diharapkan muncul pula iklan-iklan politik serupa, yang secara konsern dan detil menawarkan konsep-konsep yang akan membawa perubahan bagi bangsa. Jika dengan ekonomi kerakyatan yang bernuansa sosialis, PDIP menawarkan perbaikan bangsa dengan menawarkan kebijakan yang berpihak pada petani. Lalu, yang ditunggu saat ini adalah apa konsepsi yang akan ditawarkan partai dengan nuansa ekonomi liberal, nasional relijus atau Islam. Melalui iklan politik yang seperti ini, yang menawarkan konsepsi-konsepsi baru bagi perbaikan bangsa, rakyat akan tercerdaskan karena ikut diajak berfikir untuk memikirkan solusi masalah bangsa. Akhirnya nanti pilihan rakyat jatuh pada parpol ataupun kandidat yang mampu menyuguhkan wacana terbaik untuk perbaikan bangsa. Tidak lagi pada kandidat atau parpol yang berhasil mencitrakan dirinya dengan baik. Sehingga tidak ada lagi kandidat yang terpilih karena wajah gantengnya, wibawa yang seolah-olah terpancar dari dalam dirinya, atau bahkan sekedar senyum manisnya.
Berkaca pada iklan politik yang ada di negara maju seperti AS, menurut Bowers (1972) yang meneliti iklan politik calon presiden di surat kabar 23 negara bagian kebanyakan iklan politik yang berfokus pada isu lebih dominan dibandingkan dengan personalitas. Sama halnya dengan iklan politik di televisi, menurut Joslyn, iklan politik yang berfokus pada isu mencapai 60-80 persen daripada citra kandidat. Merujuk pada Indonesia, sebagaimana diulas di atas, iklan politik yang ada hanya sekedar ditujukan untuk meningkatkan citra kandidat. Sosok kandidat sebagai superhero bagi rakyat yang sedang kesusahan jauh lebih banyak ditampilkan ketimbang wacana perubahan yang ditawarkan kandidat tersebut. Sehingga akhirnya, jika kita secara cerdas lebih jauh mencerna iklan politik yang ada, kita hanya akan dibuat tertawa. Sebab iklan politik yang ada benar-benar hanya merupakan dagelan politik, yang sebenarnya tidak lucu. Hanya merupakan rekayasa, sebab tidak ada citra yang ingin ditampilkan kandidat tidak memiliki korelasi dengan isu yang dibawanya. Melihat iklan politik pada akhirnya sama seperti melihat orang memakai jas hujan di tengah hujan terik. Maka mari mendorong dan menekan para kandidat yang ada untuk ikut serta menyumbang konsepsi mereka bagi perubahan dan perbaikan bangsa.
Wallahua’lam bisshowab
Sumber Tulisan :
1. Firmanzah, Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007)
2. http://theindonesianinstitute.com/index.php/20080923269/Iklan-Politik-Simbol-Ketidakpekaan-Elite.html
3. http://www.habibiecenter.or.id/index.cfm?menu=publikasi&fuseaction=publikasi.detail&detailid=191&bhs=ina
Langganan:
Postingan (Atom)