Sepulang dari perjalanan kedua dari Lampung, seorang saudari saya meng-sms saya
“Fit, malam ini gw merasa sedih banget. Ada banyak hal yang terjadi yang membuat diri gw terluka. Tapi gw ga bisa bilang itu apa. Gw tahu saatnya pasti tiba. Tapi gw takut… Takut nerima semua itu… Ya Allh”
(12 Januari 2009, 00:57)
Saya bingung harus bilang apa. Karena saya tahu, dia hanya butuh untuk mencurahkan perasaannya bahwa ia sedang bersedih. Itu saja. Tanpa perlu saya berkomentar apapun, atau memberikan nasihat. Saya tahu, ia hanya perlu memberi tahu bahwa ia bersedih. Perasaan saya saat ini seolah-olah seperti Ronan Keating dalam “When you say nothing at all”, dalam konteks saya memahami sendunya dalam kediamannya, bukan hal yang lain dalam lagu tersebut.
Akhirnya, setelah membuat janji untuk bertemu dengannya, saya memberikan beberapa patah kata untuk menyemangatinya. Hal yang sama yang ia lakukan ketika saya sedang bersedih.
“Hujan masih turun,
Dan awan masih dengan setia kelabu.
Tampaknya juga tidak akan ada cahaya bulan malam ini, apalagi bebintang.
Tapi kuharap hatimu tidak sesendu hujan dan awan di malam ini.
Pun sendu,
Semoga Alloh memberikan kekuatan hati padamu untuk menjalani malam ini.”
“Kau tahu,
Hujan di tengah nyanyian kesenduannya sebenarnya merupakan puisi keberkahan dan hamparan rahmat-Nya.
Tentang nikmat Tuhan yang tiada henti, dan terus tersambung.
Seperti hujan malam ini,
Yang menyambungkan antara kemegahan semesta langit dan kerendahan bumi.
Sungguh luasnya nikmat Tuhan-Mu tidak terkira…
Maka yakinlah dengan segala nikmat-Nya diantara sendu yang kau punya…”
Ya… terkadang memang sendu datang tanpa permisi. Bahkan datang di saat sendu yang lain belum beranjak. Tapi yakinlah, bahwa sendu yang beruntun menerpa kita membuktikan keterpilihan kita sebagai hamba-Nya. Sebab Alloh tidak menimpakan masalah tanpa sebuah musabab, dan semoga ditujukan untuk mengangkat derajat kita sebagai hamba-Nya.
So, my luvly sista, juz remember :
“Kita ini perempuan milik-Nya…
Spesial…
Diturunkan dari lelangit untuk bumi…
Meski mungkin tidak secantik bidadari,
Namun ketabahan kita dalam menghadapi badai hidup membuat bidadari cemburu…
Maka jadilah perempuan yang penuh ketabahan…
Biar Tuhan tetap jadikanmu perempuan spesial…
Dan bidadari tetap cemburu padamu…”
(All poetry are written at halte komdak, 19.00. Selasa, 13 Januari 2009)
-dedicated to my lovely sista azz, I love U-
Tampilkan postingan dengan label Puisi Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Januari 2009
Rekam Jejak Perjalanan ke Lampung I
Perjalanan Pertama 11-14 Desember 2009
Perjalanan saya pertama kali ke Lampung untuk menemani ibu baik hati berkampanye di Lampung.
Sebagai peneliti politik, perjalanan pertama saya ditujukan untuk mengumpulkan data-data lapangan mengenai keadaan kota dan pemilih Lampung. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa mata pencaharian utama penduduk Lampung adalah sebagai petani. Sedangkan karakter pemilih penduduk Lampung merupakan pemilih tradisional.
Sebagai seorang campaign manager, ya… ini merupakan perjalanan yang menyedihkan. Dalam artian, begitu banyak yang mengernyitkan kepala-nya ketika saya diperkenalkan sebagai campaign manager ibu baik hati. May be because I’m look so young. Soalnya, kadang sebelum diperkenalkan selalu dikira anak ibu, atau orang berkomentar “Sekolahnya libur ya?” atau “Baru lulus SMA?” atau “kuliah dimana?” Hehehe, sebenernya seneng banget si, karena saya selalu dikira lebih muda dari umur saya, malah bisa hemat umur 4 tahun. Hanya yang membuat saya sedih adalah orang jadi tidak percaya dengan kemampuan saya, dengan melihat muka saya. Jadinya, saya tidak dapat ikut dalam setiap rapat-rapat struktur.
Sebagai seorang manusia (hihihi, emang peneliti bukan manusia :). Perjalanan kali ini merupakan sebuah pelajaran hidup, tentang cinta Alloh yang tiada berbatas kepada makhluk-Nya. Hati saya juga sangat berbunga-bunga. Wajah saya seringkali senyum-senyum sendiri sambil bersemu merah dan melihat langit sembari berbisik dalam hati “I Love U Alloh, really…” “I Love U so much”
Hihihi, saya jadi tertawa malu sendiri.
Ya… indah sekali rasanya mengungkapkan pernyataan-pernyataan cinta pada-Nya. Saya merasa sangat jatuh cinta pada-Nya (dan semoga untuk saat-saat yang akan datang, juga akan selalu jatuh cinta) dengan semua takdir-takdir indah-Nya, meski terkadang saya juga kebingungan untuk menginterpretasikan hikmah dibalik semua. Tapi yang pasti, saya tahu itu bukti kecintaan-Nya pada saya.
“Tuhan,
Aku tahu dengan pasti,
Cinta-Mu begitu besar padaku
Hingga lautanpun tak mampu menampungnya,
Jika cinta-Mu Kau tumpahkan.
Juga angkasa tak sanggup melukiskan dalam kanvas-Nya,
Bila ingin kulukiskan.
Tuhan,
Akupun mencintai-Mu.
Begitu dalam.
Begitu luas
I Love You, always…”
(ditulis di : Terbang Tinggi Besar, Lampung. 13 Desember 2008)
Perjalanan saya pertama kali ke Lampung untuk menemani ibu baik hati berkampanye di Lampung.
Sebagai peneliti politik, perjalanan pertama saya ditujukan untuk mengumpulkan data-data lapangan mengenai keadaan kota dan pemilih Lampung. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa mata pencaharian utama penduduk Lampung adalah sebagai petani. Sedangkan karakter pemilih penduduk Lampung merupakan pemilih tradisional.
Sebagai seorang campaign manager, ya… ini merupakan perjalanan yang menyedihkan. Dalam artian, begitu banyak yang mengernyitkan kepala-nya ketika saya diperkenalkan sebagai campaign manager ibu baik hati. May be because I’m look so young. Soalnya, kadang sebelum diperkenalkan selalu dikira anak ibu, atau orang berkomentar “Sekolahnya libur ya?” atau “Baru lulus SMA?” atau “kuliah dimana?” Hehehe, sebenernya seneng banget si, karena saya selalu dikira lebih muda dari umur saya, malah bisa hemat umur 4 tahun. Hanya yang membuat saya sedih adalah orang jadi tidak percaya dengan kemampuan saya, dengan melihat muka saya. Jadinya, saya tidak dapat ikut dalam setiap rapat-rapat struktur.
Sebagai seorang manusia (hihihi, emang peneliti bukan manusia :). Perjalanan kali ini merupakan sebuah pelajaran hidup, tentang cinta Alloh yang tiada berbatas kepada makhluk-Nya. Hati saya juga sangat berbunga-bunga. Wajah saya seringkali senyum-senyum sendiri sambil bersemu merah dan melihat langit sembari berbisik dalam hati “I Love U Alloh, really…” “I Love U so much”
Hihihi, saya jadi tertawa malu sendiri.
Ya… indah sekali rasanya mengungkapkan pernyataan-pernyataan cinta pada-Nya. Saya merasa sangat jatuh cinta pada-Nya (dan semoga untuk saat-saat yang akan datang, juga akan selalu jatuh cinta) dengan semua takdir-takdir indah-Nya, meski terkadang saya juga kebingungan untuk menginterpretasikan hikmah dibalik semua. Tapi yang pasti, saya tahu itu bukti kecintaan-Nya pada saya.
“Tuhan,
Aku tahu dengan pasti,
Cinta-Mu begitu besar padaku
Hingga lautanpun tak mampu menampungnya,
Jika cinta-Mu Kau tumpahkan.
Juga angkasa tak sanggup melukiskan dalam kanvas-Nya,
Bila ingin kulukiskan.
Tuhan,
Akupun mencintai-Mu.
Begitu dalam.
Begitu luas
I Love You, always…”
(ditulis di : Terbang Tinggi Besar, Lampung. 13 Desember 2008)
Minggu, 30 November 2008
Just Face It!
Seorang teman berkata padaku :
Saat kau berdoa, meminta pengharapan pada Tuhanmu, meminta kekuatan dalam menjalani kehidupan, juga dalam menapak takdirmu,
Maka ingatlah selalu, bahwa :
“Jangan pernah meminta kehidupan yang mudah,
berdo’alah agar menjadi orang yang kuat dalam hidup. Sehingga dalam kehidupan yang bagaimanapun, yang bahkan kau tak pernah sanggup membayangkannya, Tuhan memberikan kekuatan yang banyak padamu.
Juga jangan pernah memohon tugas yang sebanding dengan kemampuanmu, berdo’alah memohon kekuatan yang sebanding dengan tugas-tugasmu. Sehingga nantinya jika kita dititipkan tugas-tugas luar biasa banyaknya, yang bahkan hitungan jari kita tak sanggup untuk menghitungnya, kita memiliki kekuatan untuk menjalankannya”
Seorang adik berkata pada saya, ketika saya bertanya, mengapa cobaan kerap mendatangi seseorang tanpa henti, dan terkadang ia datang dari segala penjuru dan bersamaan :
“Cobaan itu pada hakikatnya adalah suatu pembuktian, bahwa orang yang tengah dicoba itu adalah orang-orang pilihanNya. Terpilih. Sebab Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu untuk dicoba dengan amat sangat berat. Jadi berbahagialah dengan cobaan, sebab ia menandakan keterpilihan kita sebagai hamba pilihan”
Ada orang bijak mengatakan bahwa :
“Pohon yang selalu terkena hujan, badai, petir, terik matahari, dan sulit untuk mendapatkan makanan akan menjadi pohon yang kuat. Sebab ia hidup dengan tidak mudah, ia hidup di keadaan yang serba terbatas, namun justru dengan itulah ia mampu hidup dan berubah menjadi kuat. Namun pohon yang selalu mudah mendapatkan matahari, selalu terlindung dari hujan dan badai akan menjadi pohon yang lemah. Sebab ia selalu mendapati kemudahan dalam hidup. Keterbiasaan akan kemudahan itu pada akhirnyalah yang melemahkan dia.”
Maka yang saya ingin katakan disini adalah,
Bahwa pada dasarnya, setiap cobaan yang tengah menghampiri kita,
Kapanpun, dimanapun, pada dasarnya adalah proses untuk membentuk diri kita menjadi individu yang kuat,
Percayalah,
Seperti percayanya kita pada kepompong, bahwa kelak ia akan menjadi seekor kupu-kupu yang indah.
Maka anggaplah masalah yang kerap menghampiri kita, yang bahkan tiada henti, merupakan proses untuk menjadikan kita seekor kupu-kupu cantik
Namun tetap diingat, bahwa dalam menghadapi masalah, kita tetap harus berusaha sekuat tenaga dengan seluruh tenaga yang ada, dengan seluruh kekuatan yang tiada berbatas.
Saya jadi teringat snow in sahara yang jadi penyemangat Lintang si Laskar Pelangi saat ia tengah menghadapi masalah :
“Si la poussiere emporte tes reves de lumiere
Je serai ta lune, ton repere
Et si le soleil nous brule
Je prierai qui tu voudras
Pour que tombe la neigi au sahara”
”Jika harapanmu hancur berkeping-keping
Aku akan menjadi bulan yang menerangi jalanmu
Matahari bisa membutakan matamu
Aku akan berdoa pada langit
Agar salju berderai di sahara”
Jadi,
ketika harapanmu hampir sirna, teruslah berusaha dan berdoa, karena kita tidak tahu bahwa terkadang Tuhan bahkan akan menurunkan salju di Sahara, untuk kita, untuk orang-orang terpilih –pilihanNya-, itu semua tentunya karena usaha kita yang tiada pernah putus dan bibir yang senantiasa memuji asma-Nya. Dan saya juga akan berdo’a untukmu –selalu- , agar salju di sahara akan turun pula untukmu, -semoga-.
Namun, kadang bahkan dengan usaha terkuat kita, Tuhan tetap saja memberikan kegagalan.
Untuk ini, saya jadi ingat tulisan saya di sebuah Desember 2007, untuk seorang teman yang dilanda kemurungan :
”Jangan pernah menoleh untuk melihat matahari yang sedang tenggelam
Atau laut yang tengah berombak murka
Atau langit yang tengah kelam karena mendung yang merudung
Atau ketika cinta memutuskan untuk berhenti bernafas, berhenti berbicara padamu
Jangan pernah menoleh untuk kehidupan yang tengah kelam merudungmu....
Cukup berdiri tegak
Menangis sejenak
...
Tapi tetap tegakkan kepalamu
Dan tetap melangkah ke depan
Sematkan sejumput semangat di dadamu
Biarkan jiwamu membara
Dan jangan pernah sekejap pun menoleh
Meski untuk sejenak”
Sehingga pada intinya, just face it untuk setiap masalah yang mendatangi kita, teruslah berusaha untuk apapun itu, untuk meraih impianmu. Namun ketika itu gagal, jangan pernah bertanya-tanya mengapa Tuhan memberikan kegagalan, juga jangan pernah –sekalipun- untuk menengok kebelakang. Teruslah menatap ke depan. Masa depan. And be happy :)
Ahad, 30 November 2008
@ home
Dedicated to : my lovely sista Nisa, juz trust me, “cobaan yang kerap mendatangimu itu merupakan bukti cinta-Nya, dan jangan pernah menyalahkan dirimu atas ini semua”. Azizah untuk sms manisnya, n adik ‘kecil’ Izhar untuk sms penyemangatnya.
Saat kau berdoa, meminta pengharapan pada Tuhanmu, meminta kekuatan dalam menjalani kehidupan, juga dalam menapak takdirmu,
Maka ingatlah selalu, bahwa :
“Jangan pernah meminta kehidupan yang mudah,
berdo’alah agar menjadi orang yang kuat dalam hidup. Sehingga dalam kehidupan yang bagaimanapun, yang bahkan kau tak pernah sanggup membayangkannya, Tuhan memberikan kekuatan yang banyak padamu.
Juga jangan pernah memohon tugas yang sebanding dengan kemampuanmu, berdo’alah memohon kekuatan yang sebanding dengan tugas-tugasmu. Sehingga nantinya jika kita dititipkan tugas-tugas luar biasa banyaknya, yang bahkan hitungan jari kita tak sanggup untuk menghitungnya, kita memiliki kekuatan untuk menjalankannya”
Seorang adik berkata pada saya, ketika saya bertanya, mengapa cobaan kerap mendatangi seseorang tanpa henti, dan terkadang ia datang dari segala penjuru dan bersamaan :
“Cobaan itu pada hakikatnya adalah suatu pembuktian, bahwa orang yang tengah dicoba itu adalah orang-orang pilihanNya. Terpilih. Sebab Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu untuk dicoba dengan amat sangat berat. Jadi berbahagialah dengan cobaan, sebab ia menandakan keterpilihan kita sebagai hamba pilihan”
Ada orang bijak mengatakan bahwa :
“Pohon yang selalu terkena hujan, badai, petir, terik matahari, dan sulit untuk mendapatkan makanan akan menjadi pohon yang kuat. Sebab ia hidup dengan tidak mudah, ia hidup di keadaan yang serba terbatas, namun justru dengan itulah ia mampu hidup dan berubah menjadi kuat. Namun pohon yang selalu mudah mendapatkan matahari, selalu terlindung dari hujan dan badai akan menjadi pohon yang lemah. Sebab ia selalu mendapati kemudahan dalam hidup. Keterbiasaan akan kemudahan itu pada akhirnyalah yang melemahkan dia.”
Maka yang saya ingin katakan disini adalah,
Bahwa pada dasarnya, setiap cobaan yang tengah menghampiri kita,
Kapanpun, dimanapun, pada dasarnya adalah proses untuk membentuk diri kita menjadi individu yang kuat,
Percayalah,
Seperti percayanya kita pada kepompong, bahwa kelak ia akan menjadi seekor kupu-kupu yang indah.
Maka anggaplah masalah yang kerap menghampiri kita, yang bahkan tiada henti, merupakan proses untuk menjadikan kita seekor kupu-kupu cantik
Namun tetap diingat, bahwa dalam menghadapi masalah, kita tetap harus berusaha sekuat tenaga dengan seluruh tenaga yang ada, dengan seluruh kekuatan yang tiada berbatas.
Saya jadi teringat snow in sahara yang jadi penyemangat Lintang si Laskar Pelangi saat ia tengah menghadapi masalah :
“Si la poussiere emporte tes reves de lumiere
Je serai ta lune, ton repere
Et si le soleil nous brule
Je prierai qui tu voudras
Pour que tombe la neigi au sahara”
”Jika harapanmu hancur berkeping-keping
Aku akan menjadi bulan yang menerangi jalanmu
Matahari bisa membutakan matamu
Aku akan berdoa pada langit
Agar salju berderai di sahara”
Jadi,
ketika harapanmu hampir sirna, teruslah berusaha dan berdoa, karena kita tidak tahu bahwa terkadang Tuhan bahkan akan menurunkan salju di Sahara, untuk kita, untuk orang-orang terpilih –pilihanNya-, itu semua tentunya karena usaha kita yang tiada pernah putus dan bibir yang senantiasa memuji asma-Nya. Dan saya juga akan berdo’a untukmu –selalu- , agar salju di sahara akan turun pula untukmu, -semoga-.
Namun, kadang bahkan dengan usaha terkuat kita, Tuhan tetap saja memberikan kegagalan.
Untuk ini, saya jadi ingat tulisan saya di sebuah Desember 2007, untuk seorang teman yang dilanda kemurungan :
”Jangan pernah menoleh untuk melihat matahari yang sedang tenggelam
Atau laut yang tengah berombak murka
Atau langit yang tengah kelam karena mendung yang merudung
Atau ketika cinta memutuskan untuk berhenti bernafas, berhenti berbicara padamu
Jangan pernah menoleh untuk kehidupan yang tengah kelam merudungmu....
Cukup berdiri tegak
Menangis sejenak
...
Tapi tetap tegakkan kepalamu
Dan tetap melangkah ke depan
Sematkan sejumput semangat di dadamu
Biarkan jiwamu membara
Dan jangan pernah sekejap pun menoleh
Meski untuk sejenak”
Sehingga pada intinya, just face it untuk setiap masalah yang mendatangi kita, teruslah berusaha untuk apapun itu, untuk meraih impianmu. Namun ketika itu gagal, jangan pernah bertanya-tanya mengapa Tuhan memberikan kegagalan, juga jangan pernah –sekalipun- untuk menengok kebelakang. Teruslah menatap ke depan. Masa depan. And be happy :)
Ahad, 30 November 2008
@ home
Dedicated to : my lovely sista Nisa, juz trust me, “cobaan yang kerap mendatangimu itu merupakan bukti cinta-Nya, dan jangan pernah menyalahkan dirimu atas ini semua”. Azizah untuk sms manisnya, n adik ‘kecil’ Izhar untuk sms penyemangatnya.
Menatap Ke depan
Tataplah hidup yang ada di depan
Hanya yang ada di depan
Jangan pernah sejenakpun,
Meski hanya sejenak,
Menengok kebelakang,
Pada masa lalumu,
Karena sungguh,
Itu hanya akan melemahkan,
Membuatmu rapuh,
Tataplah hidup yang ada di depanmu,
Selalu,
Biar ia yang jadi penyemangatmu,
Untuk membentuk kerajaan mimpimu menjadi kenyataan,
Biar ia yang jadi pangeran berkuda putihmu,
Yang selalu siap menolongmu di saat kau jatuh dan rapuh dalam hidup,
Hanya ia yang mampu,
Masa depanmu.
Ahad, 30 November 2008
@ my home, ohhh tulisan iklan politikku harus jadi malam ini juga!!!
Hanya yang ada di depan
Jangan pernah sejenakpun,
Meski hanya sejenak,
Menengok kebelakang,
Pada masa lalumu,
Karena sungguh,
Itu hanya akan melemahkan,
Membuatmu rapuh,
Tataplah hidup yang ada di depanmu,
Selalu,
Biar ia yang jadi penyemangatmu,
Untuk membentuk kerajaan mimpimu menjadi kenyataan,
Biar ia yang jadi pangeran berkuda putihmu,
Yang selalu siap menolongmu di saat kau jatuh dan rapuh dalam hidup,
Hanya ia yang mampu,
Masa depanmu.
Ahad, 30 November 2008
@ my home, ohhh tulisan iklan politikku harus jadi malam ini juga!!!
Langganan:
Postingan (Atom)